Sabtu, 03 Oktober 2020

# Cerpen

Si Boy

         

tantrileo.com,-Seandainya siang itu aku mau mendengarkan nasihat bunda. Andai saja aku juga mau menuruti peringatan dari kakak dan lebih meredam amukan egoku, mungkin kejadian itu benar-benar tidak akan terjadi. Aku bersikukuh dengan pemikiranku sendiri tanpa mau mempertimbangkan saran dan mendengar peringatan orang lain.

Siang itu begitu panas terasa membakar tubuhku, bahkan sampai ke titik nadiku yang terdalam. Pemandangan siang yang sangat tidak kuharapkan justru terjadi tepat di depan mata kepalaku sendiri. Bermula dari Pak Basri-satpam di perumahanku yang memberitahu peristiwa naas itu.

“Non Dira, si Boy non, si Boyy,” ucapnya dengan napas terengah-engah.

Dira yang memang mudah panik langsung menghampiri Pak Basri dan bertanya, “Ada apa, Pak? Si Boy kenapa?”

Anu non, anuu, ehHh, hmmm, si Boy, si Boy, hmmm, si Boy dipukuli orang-orang di gang sebelah non!” jawab Pak Basri dengan ragu.

Spontan saja aku kaget dan geram mendengar penjelasan Pak Basri. Langsung saja aku mengambil kunci motor dan topi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada si Boy. Teriakan mas Bagas yang ingin menggoncengku tidak aku gubris. Bahkan ucapan bunda yang selalu menenangkan hati setiap ada masalah kali ini tidak mempan di telingaku.

Pikiranku sungguh kalut, dengan kecepatan tinggi kukendarai bebek merah kesayanganku hingga tepat di belokan gang sebelah perumahan tempat yang dituju. Namun, aku dikagetkan dengan bayangan hitam yang berlari kencang ke arahku karena panik aku langsung menarik rem tangan mendadak sehingga bayangan hitam yang menghampiriku tadi terpental dan membuatku terjatuh.

Sayup-sayup kulihat disertai kepala pusing luar biasa, tampak dari kejauhan bayangan hitam yang terpental itu kejang-kejang meregang nyawa sambil menahan sakit tak kuasa. Yaa, ia sangat memesona, mata birunya seolah mengucap salam perpisahan, bulu hitam pekat melekat di tubuhnya dan kalung yang menjuntai di lehernya dengan tulisan “Boy” itu sangat kukenal betul. Arrghhh itu si Boy...

        Boy kecil yang dulu pernah kutemui di pinggir jalan raya, dengan suara melengking yang meronta, membuatku merasa iba tuk mengabaikannya. Boy yang selalu menungguku di halaman rumah hingga menjelang aku datang dari sekolah. Boy yang selalu bermanja tidur di sofa, tentu saja Boy yang mewarnai hari-hariku dengan penuh cinta. Kini semua sirna. Setelah itu aku sudah tidak ingat apa pun yang terjadi karena semuanya menjadi gelap dan pandanganku menerawang ke angkasa.

Tantrie_Leo 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar