Rabu, 30 Desember 2020

# Parenting

Benarkah Stigma Sosial Membentuk Karakter Anak?

 

        https://www.kabarkota.com/5-sifat-ini-dapat-menjadikan-anak-nakal-menjadi-orang-sukses/



tantrileo.com,-Dalam psikologi sosial terdapat sebutan “stigma sosial,” sebuah ciri negatif yang melekat pada seseorang kemudian ditolak keberadaannya di lingkungannya. Arti “stigma sosial” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun 2014, adalah penolakan keberadaaan seseorang atau kelompok pada lingkungan tertentu karena sudah sangat dirugikan. Tentu saja sangat sulit menghapus stigma yang telanjur melekat.

Jika ada seorang pencuri yang sudah tidak lagi mencuri, maka cap pencuri tetap melekat padanya. Begitu halnya dengan seorang pembunuh, meski sudah bertaubat dan tidak seperti itu lagi, cap pembunuh pun membekas pada dirinya. Atau seorang anak bandel meski ia sudah tidak bandel, orang lain pun tetap memberi label bandel padanya. Bahkan, dampak stempel stigma sering berujung pada pengucilan di lingkungannya. Tidak fair memang, tetapi kenyataannya sebagian besar lingkungan sosial demikian adanya.

Seperti yang diilustrasikan pada sebuah film yang berjudul Good Will Hunting sebuah film tahun 1997 yang disutradarai oleh Gus Van Sant yang menceritakan kisah Will Hunting, seorang “Prodigy” bermasalah yang bekerja sebagai “janitor” di Massachusetts Institute of Technolgy meskipun pengetahuannya dalam matematika lebih superior dibanding dengan seluruh orang lain di fakultas tersebut. Kehidupan Will Hunting berubah dimulai ketika dia berada di MIT. Bukan untuk kuliah, melainkan menjadi tenaga kebersihan. Meski cerdas, kuliah sepertinya tidak pernah terbayang oleh Will.

Dia seorang yatim piatu yang sering terlibat masalah. Saat diasuh oleh orang tua angkatnya diperlakukan tidak selayaknya anak, karena menjadi korban penganiayaan anak, sejak kecil dia terbiasa dengan kehidupan yang keras dan tanpa aturan. Dengan latar belakang itu, membuat Will menjadi emosional, dan sering berbuat ulah. Will menjadi pribadi yang tertutup, tidak percaya diri, bahkan menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Saat menjadi petugas kebersihan di MIT, Will sering menyelesaikan soal-soal di kelas matematika sebelum membereskan ruangan tersebut. Suatu hari, Profesor Gerard memberikan sebuah soal kepada mahasiswanya. Begitu rumitnya soal tersebut, sampai tak satu pun mahasiswa yang mampu memecahkannya. Kehebohan muncul setelah soal terpecahkan, dan tak ada yang mengetahui siapa yang berhasil memecahkannya. Akhirnya, Gerard memergoki Will sedang menyelesaikan soal di papan tulis setelah semua mahasiswa pulang.

Mengetahui potensi Will, Gerard ingin Will bekerja di bidang matematika. Sayangnya, Will sendiri tidak mempunyai tujuan yang jelas. Apalagi dia sedang ditahan pihak kepolisian karena melakukan aksi penyerangan. Gerard mengajukan pembebasan Will dengan jaminan akan mengawasinya dan bertanggung jawab terhadap Will. Gerard mencoba memperbaiki perilaku Will dengan mendatangkan psikolog. Namun, beberapa psikolog yang menangani Will menyerah sampai akhirnya psikolog yang keenam berhasil membuat Will menjadi pribadi yang lebih baik.


Dari ilustrasi film ini ada beberapa pembelajaran yang dapat diambil di antaranya:

1.  Mengubah perilaku/ karakter seseorang itu bukan perkara mudah. Perlu cara/ strategi dan kesabaran. Jangan mengedepankan emosi saat menghadapi anak didik/ anak kita yang bermasalah. Terus lakukan pendekatan sampai akhirnya mereka terbuka.

2.  Seburuk-buruknya seseorang, pasti ada sisi kebaikan/ kelebihan dalam dirinya. Jika kita sebagai orang tua/ keluarga/ pendidik lebih peka, maka bisa mengubahnya apalagi seorang anak yang masih dalam tumbuh kembang pembentukan karakter.

3. Jangan mudah menilai seseorang hanya dari satu sudut pandang saja atau dengan istilah “judgments from outside atau value judgments.

4.  Memiliki pandangan luas tentang hal-hal yang terjadi di dunia dan tidak ketinggalan zaman.

5. Pendidikan bukan hanya menyoal kecerdasan, akan tetapi lebih ditekankan pada moral. Orang yang cerdas tanpa moral (karakter) yang baik tidak akan berguna bagi orang lain. Sesungguhnya, sebaik-baiknya orang adalah yang memberi manfaat bagi sekitarnya.


Apa kata Pakar Psikologi terkait Fenomena Ini

Seperti yang dituturkan oleh seorang psikolog anak dari Psychobiometric bahwa "Saat ini konsep kecerdasan sedang booming di masyarakat dan anak yang pintar selalu identik dengan anak yang jago matematika. Padahal anak yang cerdas itu adalah anak yang bisa menemukan hal-hal baru," ujar Efnie Indrianie, MPsi. Psikolog yang akrab disapa Pipin ini menjelaskan anak yang cerdas itu adalah anak yang suka membuat masalah, hal ini berarti anak tersebut memiliki kreativitas tinggi atau termasuk anak yang kreatif.

Pipin juga menuturkan bahwa sisi kreativitas ini termasuk ke dalam salah satu soft skill yang dimiliki anak, selain kreativitas ada juga beberapa soft skill lainnya yang dimiliki oleh anak yaitu:

  1. Kepercayaan diri, ada anak yang memiliki kepercayaan diri tinggi, tapi ada juga yang memiliki demam panggung misalnya berani jika di dalam rumah tapi begitu di luar rumah atau bertemu dengan orang lain ia menjadi pendiam atau malu-malu.
  2. Kepedulian, ada anak yang memang sudah memiliki kepedulian sejak kecil. Misalnya ia hanya memiliki satu kue tapi temannya ada dua, maka dengan sendirinya ia akan membagi kue tersebut menjadi 3 lalu membagikan satu per satu ke teman-temannya.
  3. Inisiatif, ada anak yang memang diketahui memiliki inisiatif tinggi sehingga ia cenderung responsif.
  4. Kreativitas, ada anak yang diketahui memiliki kreativitas tinggi tapi ada juga yang tidak.

Semoga ulasan ini dapat sedikit mencerahkan terhadap permasalahan-permasalahan Anda ya, khususnya pembentukan karakter anak dalam proses membantu tumbuh kembangnya. Yuk, berusaha menghilangkan stigma sosial kita terhadap orang yang telah melakukan kesalahan di masa lalunya. Alangkah lebih bijak, jika kita menerima dan memberi kesempatan kepada mereka. Tentunya, agar mereka mendapatkan kehidupan normal dan bebas mengekspresikan diri tanpa adanya intimidasi atau merasa dikucilkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar