Sabtu, 26 Desember 2020

# Cerpen

Taman Kota, Saksi Bisu Kebersamaan Kami

 


tantrileo.com,-Taman pusat kota yang menjadi ikon kota suwar-suwir ini mengandung makna dan cerita yang mendalam bagi kehidupanku. Kota kelahiran sekaligus rumah pertamaku. Banyak cerita dan kenangan yang telah terukir indah di setiap sudut taman ini. Berbagai fasilitas tersedia di sini seperti; arena bermain, toilet umum, lapangan olahraga, wahana hijau, bahkan warung lesehan beraneka jenis pilihan menu. Kolam taman yang diisi ikan-ikan turut menghiasi dan menambah keceriaan anak-anak seusia kami. Saat itu usiaku memasuki sembilan tahun, fase memiliki masa tumbuh kembang fisik, kognitif, emosional, sosial, dan perkembangan bahasa serta berbicara. Di taman ini pula, aku dan beberapa teman sekolah seringkali bermain bersama sambil mengerjakan tugas kelompok.

Mama, sosok ibu yang penuh pengertian dan setia mendampingi kegiatanku setiap hari, termasuk kegiatan di taman ini. Kebersamaan dengan mama yang selalu setia mewarnai hari indahku dalam kondisi apapun, bahkan di saat ia sedang sakit. Pernah suatu hari, mama menungguku di halaman parkir tempat bimbingan belajarku. Aku baru bisa keluar dari ruangan kelas karena masih ada beberapa soal yang belum diselesaikan. Setelah selesai, aku pun pulang dan berlari menuju mama di parkiran. Betapa terkejutnya aku mendapati tubuh mama yang basah di sekujur tubuhnya padahal bintang-bintang bertebaran di langit begitu cerahnya.

“Mama kehujanan ya? Kok baju mama basah semua?” tanyaku dengan iba dan tak tega.

“Mama ndak apa-apa, sayang. Ini mama kok yang salah, karena terburu-buru ingin jemput kamu. Eh, pas di tengah jalan tiba-tiba hujan, mama lupa juga ndak bawa jas hujannya, jadi basah-basahan deh,” senyum mama tetap merekah meskipun tubuh mama terlihat gemetaran.

Aku semakin merasa bersalah karena ulahku yang tidak tepat waktu sehingga membuat mama terkena imbasnya. Sesampainya di rumah, mama justru tidak menghiraukan dirinya yang basah kuyup. Namun, langsung menyiapkan makan malamku dan papa yang datangnya bersamaan dengan kami di rumah. Melihat kondisi mama yang basah kuyup, bukan iba atau menunjukkan kepeduliannya pada mama justru sebaliknya, papa malah mengomel tidak jelas dan menyalahkan mama.

Aku melihat papa memang telah berubah sejak aku mulai bersekolah di taman kanak-kanak. Entah apa yang terjadi, perhatian dan kasih sayang papa kepadaku dan mama seolah terkikis. Kebersamaan kami seolah sirna. Papa yang biasanya mengajak kami untuk menghabiskan waktu bersama setiap hari Minggu, justru sebaliknya. Papa seringkali tidak pulang, selalu beralasan banyak pekerjaan dan keluar kota. Ketika di rumah pun, papa sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk dengan gawainya atau berkas-berkas pekerjaannya. Aku sampai merasa iri dengan gawai papa, karena menganggap gawainya jauh lebih berarti dibandingkan anaknya sendiri.

Sebagai anak yang masih berusia empat tahun saat itu, aku tidak berdaya dan tak sanggup meronta. Aku pun merasa trauma karena ayah pernah memukulku saat aku mengganggu dirinya yang sedang sibuk dengan gawainya ketika itu. Tidak hanya kepadaku saja, pukulan tangan papa mendarat, aku melihat dengan jelas mama sering menjadi sasaran kemarahan papa saat ada hal yang tidak disukainya. Aku juga merasa papa seperti orang lain di rumah kami. Entah sampai kapan ini semua berakhir.

Perubahan itu selalu kunanti, hingga usiaku memasuki sembilan tahun. Begitu sabarnya mama membersamaiku dan menggantikan posisi papa dihatiku. Kami sama-sama terluka atas perbuatan papa, tetapi mama bertahun-tahun hanya memilih diam dan membisu. Hiburanku dan mama hanya di taman favorit kami, melupakan semuanya dengan menghabiskan waktu setiap harinya, tak jarang akhir pekan pun kami habiskan bersama di setiap sudut taman ini.

Hari ini bulan Desember 2020, tepat dua puluh tahun yang lalu sejak terakhir kali melihat dan mendekap erat wangi tubuhnya yang khas. Wangi tubuh yang harum seperti bunga-bunga di taman ini. Wanginya tetap melekat di indera penciumanku, begitu pula hangat erat tubuhnya masih terasa di pelukan. Kecintaanku kepada taman ini sekaligus sebagai pengobat rinduku kepadanya, meski kerinduanku seolah semu. Bertepatan di hari ibu di tanggal 22 Desember ini, sejak peristiwa dua puluh tahun lalu. Aku kerap berjanji tidak akan pernah membuat luka hati anakku karena keegoisan orang tuanya. Di taman ini pula, menjadi tempat terakhir kali aku melihat wajah mama yang pergi untuk menemukan kebahagiaan sesungguhnya. Karena tak kuasa dengan perlakuan papa yang telah mengkhianatinya sejak usiaku balita. 


Jember, 20 Desember 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar