Kamis, 22 April 2021

Aku, Kamu, Kita, Sebuah Cerita

April 22, 2021 0 Comments

 



tantrileo.com,-Ferdy Anggara, laki-laki yang sudah menemani hari-hariku sejak masa kanak-kanak. Pertemanan kami telah terjalin sejak di bangku TK. Hingga kini, usia kami memasuki 25 tahun, jalinan pertemananku dan Ferdy masih berjalan baik bahkan seperti saudara sendiri. Dia selalu menjadi pelindungku, salah satunya dari ejekan-ejekan teman yang mengusiliku. Sebagai anak perempuan yang tidak pernah mengenal ayahnya, tentu saja aku sangat membutuhkan sosok laki-laki yang mampu menjagaku. Beruntungnya, itu semua kudapatkan dari Ferdy. Masih teringat ketika SMP, teman-teman mengejekku.

“Dit, ayahmu siapa namanya? Pak Karso, Pak Dani, Pak Tumin, Pak Indra, atau sama dengan namaku ya, hahaha…” ledek Sandi berulang kali di depan kelas saat pelajaran kosong. Teman lainnya menimpali,“ ayahnya Dita banyak ya, tapi nggak tahu siapa orangnya.” Teman-teman pun tertawa semakin menjadi mengolokku.

Mendengar olok-olok itu membuat hatiku teriris laksana sembilu, perih dirasa. Ini buka kali pertama terjadi, hal ini sudah berulang kali. Namun, aku tidak punya kekuatan untuk membalas. Aku hanya diam sambil menahan sakit di rasa, kutumpahkan tangisan dengan memeluk erat tas ransel biru mudaku. Ferdy yang baru kembali dari toilet melihatku menangis kaget.

“Kamu kenapa, Dit? Apa yang terjadi? Kamu sakit?” tanyanya memberondong pertanyaan.

Aku hanya menggeleng pelan sambil menahan isak tangis yang kutahan agar tidak diketahui teman lainnya. Tidak puas dengan jawabanku, Ferdy pun bertanya pada teman-teman di kelas.

“Awas kamu, Sandi! Tunggu pulang sekolah nanti, kau!” rutuknya kesal sambil meninju-ninju kepalan tangannya menahan amarah.

Sepulang sekolah, aku selalu pulang bersama dengan Ferdy kecuali jika kami ada kegiatan sekolah masing-masing. Kebetulan, rumah kami searah. Siang itu Ferdy menyuruhku pulang sendiri katanya dia masih ada kegiatan lainnya. Akhirnya, aku pun pulang sendiri dengan angkot yang mengantarkanku ke rumah.

Ada yang aneh kurasa siang itu, sepertinya Ferdy menyembunyikan sesuatu dariku. Namun, entah apa, kuharap dia baik-baik saja.

Di lain tempat, Ferdy sudah siap menunggu Sandi di ujung jalan sekolah. Niat ingin memberi pelajaran pada Sandi sudah sejak lama ditahannya. Namun, perbuatannya pada Dita di kelas tadi menjadi puncak kekesalannya pada anak songong satu itu. Setelah menunggu agak lama dari kejauhan tampak Sandi berjalan dengan teman-temannya.

“Hai berandal! Kau beraninya jangan cuma sama perempuan ya. Sekali lagi kau ganggu Dita, aku nggak akan tinggal diam.”

“He, emangnya kau siapanya, Dita? Bapak bukan, saudara bukan, keluarga juga bukan, apa urusanmu, haa…!” jawab Sandi santai dengan gaya menantang.

Sambil menuding ke arah Sandi, aku pun menjawab, “urusan Dita akan menjadi urusanku juga, paham kau!”

Dengan kesal Sandi langsung memukul wajah Ferdy hingga jatuh tersungkur di tanah. Selanjutnya, perkelahian pun tidak dapat dielakkan.

Peristiwa perkelahian Ferdy dan Sandi menjadi trending topik di sekolahku. Keduanya sama-sama mengalami luka parah. Sandi dan teman-teman mengeroyok Ferdy, beruntung Ferdy memiliki ilmu bela diri sehingga dapat membela diri sekali pun dikeroyok. Peristiwa hari itu membuat keduanya di skors dua minggu, aku tanpamu selama dua minggu di sekolah rasanya sesuatu, sepi dan sangat membosankan. Meskipun demikian, sepulang sekolah aku selalu menyempatkan diri menjengukmu di rumah.

Ferdy satu-satunya sahabat yang paling mengerti diriku, segala kesukaanku, hobiku, buku yang paling kusuka, bahkan dia tahu ukuran baju dan nomor sepatuku. Ferdy selalu pandai menenangkan hatiku di kala gundah dan paling mahir membuat suasana menyenangkan.

Dalam keseharian selalu kami habiskan bersama, sekali pun kami sudah berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Ferdy memilih menjadi seorang guru yang berniat berbagi dan mengabdikan diri. Lalu aku, memilih berkarier sebagai penyiar radio karena kecintaanku pada dunia musik atau lebih tepatnya untuk menutupi kesepianku yang tiada henti.

Suatu ketika Ferdy dipindahtugaskan di daerah terpencil di ujung Pulau Jawa selama setahun, selama itu pula Ferdy hanya pulang satu kali mengunjungiku. Rindu sudah pasti, kehilangan apalagi tapi aku tetap sabar dan setia menanti. Ketika berjauhan seolah separuh hidupku terbawa jauh bersamamu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Kami begitu saling menyayangi, meski di antara kami tidak pernah ada kepastian. Namun, dari sikapmu menunjukkan kalau aku spesial dan segalanya bagimu, meski kami jauh setiap hari tetap berkirim kabar dan bertukar cerita. Kabar terakhir dia mengatakan kalau akan pulang dari tugasnya yang sudah usai. Ferdy juga mengatakan ada kejutan untukku, dia juga meyakinkanku kalau kejutan ini yang kutunggu. Hari yang dinanti pun tiba, dia memang benar-benar memberikanku kejutan. Kejutan berupa undangan yang di dalamnya tertera namamu, Ferdy Anggara. Nama satunya, nama perempuan lain, bukan namaku. Padahal aku sangat berharap di undangan itu hanya ada namamu dan namaku, iya nama kita, dalam sebuah kisah lembaran cerita yang mempesona.


Senin, 19 April 2021

Cinta, Kandas, atau Welas?

April 19, 2021 0 Comments

 


tantrileo.com,-Cerita Indah Namun Tiada Akhir merupakan singkatan dari CINTA.

Loh, loh, loh…. Mengapa tiada akhir ceritanya? Yups! Tiada akhir di sini mengingatkan pada kita semua bahwa sejatinya cinta itu sebuah proses, ada alur atau tahapan-tahapannya, biasanya sepasang insan yang berproses untuk terus belajar dan belajar. Secara akademis tidak ada sekolah yang dikhususkan tentang cinta. Konteks cinta itu sendiri sangat luas, tidak hanya sekadar cinta pada pasangan saja. Namun, dengan lingkungan kita yang terdekat seperti kepada orang tua, saudara, keluarga, sahabat, tetangga, pekerjaan, bahkan hobi yang kita sukai juga berawal dari cinta.

 

Definisi CINTA tidak dapat kita uraikan secara tersurat, hal itu dikarenakan lebih bisa dirasakan menurut interpretasi masing-masing setiap individu, tentunya pendapat setiap orang berbeda dalam memaknainya.

Cinta seolah membawa seseorang selaksa ke langit tujuh karena teramat bahagianya. Namun, tidak sedikit pula sebagian orang yang mengalami jatuh cinta justru berakhir dengan pilu. Ketika kita sudah siap berbahagia dengan cinta, maka saat itu pula kita harus menyiapkan diri untuk KECEWA.

Menyoal cinta, kita tidak bisa merencanakan harus jatuh cinta pada siapa. Kita juga tidak pernah dapat merencanakan bagaimana seharusnya cinta itu berlanjut. Akankah cinta itu terus berlanjut dan menua bersama? Atau justru harus terhenti di tengah jalan seperti kepingan bintang tak tentu arah?? Cinta itu tidak pernah salah. Hanya terkadang, kita yang salah menempatkan cinta, bahkan ironisnya cinta hadir pada saat di waktu yang tidak tepat. Argh, seperti lagu saja, tapi itulah realitanya.


 

Tak Selamanya Cinta Harus Saling Memiliki

Sering kali sepasang kekasih yang saling mengasihi harus berakhir atau the end meski sudah menjalani hubungan yang lama dan memiliki ikatan yang kuat. Jika memang sudah memiliki ikatan kuat dan erat, lalu mengapa tetap sampai kandas? Mengapa fungsi welas tak bertuan?? “Misteri Cinta.”  Iya, tampaknya kata itu yang tepat untuk menjawabnya. Sungguh suatu misteri yang dapat membuat kita tertawa tapi juga menangis di waktu yang sama.


Ini menjadi salah satu bukti bahwa tidak ada jaminan bagi “pecinta” akan langgeng dan awet selamanya. Dikuatkan pula kata bijak about love berikut ini ”Cinta tidak selamanya saling memiliki.”

Miris, tragis, dan ironis bukan! Terdengarnya memang seperti drama Korea yang tidak selalu happy ending di akhir cerita. Meski demikian, sebaiknya kita tetap sabar, lapang dada, dan kuat atas kegagalan yang dialami. Kegagalan merupakan salah satu cambuk bagi kita untuk lebih kuat dan berhati-hati dalam menyikapi sesuatu. Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih indah untuk kita. Tentunya ada hikmah yang dapat dipetik dari kegagalan tersebut pastinya dong.

Di beberapa kasus, cinta memang bisa berakhir bahagia. Namun, di beberapa kasus lainnya cinta juga bisa berakhir luka. Tidak semua cinta akan menyatu. Ada orang-orang yang jatuh cinta akan tetapi cintanya terhalang restu, ada pula cinta dua pasang anak manusia yang telah bahagia lagi-lagi akhirnya putus karena hadirnya cinta yang baru. Ada pula yang telah hidup bersama dan memiliki buah hati setelah puluhan tahun tapi karena terlalu banyak perbedaan dan kerap kali terjadi ketidakcocokkan, akhirnya juga harus menyelamatkan diri masing-masing. So, tidak ada yang bisa menjamin kepastiannya.  

 

Hidup Sebuah Pilihan, So Mantapkan Hati

Hidup itu sebuah pilihan kawan. Kamu mau memilih yang putih atau hitam? Hanya itu saja pilihannya, tiada abu-abu apalagi merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu yang biasa disingkat menjadi MeJiKuHiBiNU. Ibarat pelangi, kehidupan itu memang berwarna dan penuh makna, tinggal tergantung diri kita mau mewarnainya dengan goresan apa.

“Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tidak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa”

(Sudjiwo Tejo)

Apakah kamu mau meratapi diri terus menerus karena ditinggal pergi pujaan hati? Atau segera bangkit dan instropeksi diri? Ketika cintamu kandas, hati boleh patah, hancur, dan berkeping-keping. Namun, jangan biarkan hatimu terus hancur. Kamu wajib BAHAGIA. Semoga semesta mengirim yang terbaik untuk kamu yang pernah gagal.

Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati kamu terbuka bagi orang lain dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu itu terbuka lebar. Ketika seseorang sudah berkomitmen maka dia sudah memasuki tahap menjaga komitmen tersebut, dan bukan lagi tahap mencari yang lebih baik. Nyatanya, semakin kita mencari yang lebih baik dan terbaik maka semakin sulit kita mendapatkannya. Berbahagialah kita yang telah menemukan cinta terindah di hidup kita, berakhir bersama cinta itu dan memupuknya bersama orang tercinta bersama. Selamanya ….

Kamis, 15 April 2021

Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendirian (Eps.1)

April 15, 2021 0 Comments



tantrileo.com,-Siang itu mentari enggan menyapa siapa saja yang memuja. Mungkin, ia sedang berduka atau memang suka mempermainkan cakrawala. Biarlah, meski demikian aku tetap tenang dan santai menikmati perjalananku menuju ke rumah. Aku malah bersyukur, karena hari ini sekolah dipulangkan lebih awal dari sebelumnya. Di dalam perjalanan bus yang kunaiki nampak begitu lengang, wajar saja waktu masih menunjukkan pukul 10.10 WIB. Kalau di pertengahan hari, suasana bus dan transportasi umum lainnya yang terdapat di ibukota memang tidak begitu padat. Namun, sebaliknya saat memasuki jam berangkat kerja/ sekolah dan sepulang kerja, akan terlihat padat dan ramai, mereka berjibaku mengejar waktu.

Kalau saja orang menganggap rumah adalah surga, rumah diibaratkan tempat kembali, atau tempat beristirahat. Begitu pula denganku. Ketika sampai di rumah setelah seharian beraktivitas, berangkat dan keluar dari rumah sejak pukul 05.00 pagi, lalu tiba di rumah saat senja dan bisa langsung merebah serasa hal yang paling luar biasa tiada duanya. Sepulang sekolah, aku selalu langsung melanjutkan kegiatan lainnya tanpa pulang terlebih dahulu karena jarak yang cukup jauh dengan tempat-tempat kegiatanku lainnya.

Jarak antara rumah dan sekolah ditempuh dengan sekitar 60 menit, jika macet bisa sampai 90 menit bahkan dua jam di perjalanan. Sehingga, sepulang sekolah aku langsung melanjutkan kegiatanku yang lain, seperti; bimbingan belajar, ke sanggar kesenian, belajar kelompok, atau kegiatan remas (remaja masjid). Kurang lebih seperti itulah rutinitas keseharianku. Sebagai gadis remaja yang terbiasa aktif berkegiatan di sekolah maupun di luar sekolah, memang membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra agar bisa menjalankan antara kewajiban belajar dan berorganisasi.

Pernah suatu hari, ayah menegaskan hal itu padaku, “Kamu harus bisa bagi waktu dengan baik lho ya, antara kegiatan dan sekolah. Ayah nggak mau kalau nantinya malah bikin sekolahmu berantakan,” ujar ayah dengan sorot matanya yang kosong.

“Iya Ayah, InsyaAllah Dena akan ingat terus pesan Ayah. Dena akan belajar tanggung jawab dan jaga kepercayaan yang udah dikasih. Tentu Dena akan menomorsatukan sekolah Ayah. Terima kasih Ayah, sudah mau sabar ingatkan Dena terus.” Selesai berucap Dena langsung mencium tangan ayahnya dan kedua pipi lelaki yang diidolakannya dalam hidup.

 

* * *

 

 

Denada Senja Meyingsing. Itulah nama lengkapku. Aneh terdengarnya ya, tapi aku sangat menyukainya. Nama yang sengaja diberikan oleh kedua orang tuaku yang memiliki darah seni. Ayah sendiri seorang arsitek yang juga pandai membuat komik, aliran lukisannya lebih ke realis. Selain memiliki kepiawaian melukis, kemahiran lainnya adalah bernyanyi dan akting, semasa mudanya dulu ayah seringkali ikut dalam pembuatan film meskipun hanya sekadar figuran. Sangking cintanya pada dunia akting, sebelum fokus pada pekerjaannya yang sekarang ayah membina sanggar kesenian khusus akting di daerah Tomang dengan beberapa teman pecinta kesenian lainnya. Sebagai mantan penyiar radio yang sempat melegenda di ibukota, aku sungguh mengagumi sosok ayah dengan semua talentanya yang luar biasa. Father, you are the source of inspiration and the hero of my life.

Darah seni diriku juga tertular genetis dari ibu. Ibu yang bermula berprofesi sebagai perawat, demi merawat dan membersamai buah hatinya rela resign dan menjadi ibu rumah tangga. Sejatinya, pekerjaan yang paling mulia adalah ibu rumah tangga. Lalu, kepiawaian ibu tidak berbeda jauh dari ayah. Ia pun pandai melukis, rumah kami dipenuhi dengan lukisan-lukisan realis. Lantai atas rumahku dipenuhi dengan lukisan-lukisan ayah yang dominan pada objek hidup. Berbanding terbalik denganku yang justru tidak memiliki kemahiran melukis, really? Iya beb, sungguhan, nggak bohong. Kemahiran ibuku yang lain adalah memasak. Pokoknya is the best dan juara sedunia kalau urusan memasak dan buat kue ibu lah. Ngangeni, tentu saja. Semua mampu disulap menjadi masakan yang wow, karena banyak yang cocok dan suka akhirnya ibu pun sempat membuka catering dan kedai soto mie di samping rumah kami.

 

* * *

 

 

“Lu telat lagi De, hari ini?” Tanya Amara, sahabat sekaligus teman sebangku Dena di kelas. 

“Iya Ra. Padahal, gue udah berangkat pagi-pagi banget lho, jam 5 kurang gue udah ada di terminal. Tapi, tadi di jalan ada mobil yang habis tabrakan gitu. Jadi, bus gue kena imbasnya deh. Bus tadi sempat diam lama, nggak gerak karena jalanan padat. Huft, ngeselin, kan!” sungut Dena kesal sambil tetap menulis buku catatan pelajaran yang tertinggal karena ia terlambat maka tidak boleh mengikuti pelajaran di awal tadi.

 “Udah lah De, nggak usah merengut gitu, mending kita ke kantin aja yuk! Mumpung masih ada waktu istirahat nih. Ada menu baru ketoprak kesukaan lu tau. Ayyoo!” Amara langsung menarik lengan sahabatnya yang masih sibuk saja menulis buku catatan.

Begitulah persahabatan Amara dan Denada. Keduanya saling melengkapi dan mengisi. Dena sendiri merasa beruntung memiliki sahabat seperti Ara, panggilan akrabnya pada sahabatnya satu itu. Menurutnya, Amara itu gadis remaja yang dewasa sebelum waktunya. Baik dalam pemikiran maupun perbuatan, segalanya dipikir matang. Berbeda dengan dirinya yang grusah grusuh, lelet, dan seringkali tidak berpikir panjang. Sikap Amara sepertinya terbentuk dari didikan mamanya yang single parents, sedangkan ayah Ara pergi entah ke mana saat usianya masih enam bulan. Kasihan Amara, beruntungnya ia tumbuh menjadi gadis yang tangguh dan nggak cengeng pada keadaan. Begitu besar rasa ingin melindungi dirinya dari siapa pun yang ingin menjahatinya.

 

* * *

 

 

          “Neng Dena, telat lagi. Hadduh, kumaha ieu, Neng (bagaimana ini). Amang teh takut Neng dimarahi terus sama Pak Anas. Neng Dena, teu nanaon atuh (tidak apa-apa begitu)?” ucap Mang Cecep, satpam sekolah yang baik hati.

          Sebenarnya Dena merasa khawatir dan was-was pada Pak Anas, guru Dena yang terkenal galak dan biasa menghukum siswa yang terlambat masuk sekolah. Namun, Dena berusaha meyakinkan satpam idola di sekolah mereka yang baik hati itu, “Nggak apa-apalah Mang, mau gimana lagi? Kan emang rumahku jauh banget, meski udah dibelain berangkat pagi ya tetep aja ada hambatan di jalan, Mang.”

“Ayo semuanya berdiri di tengah lapangan, cepat! Kalian ini, selalu saja merepotkan,” suara Pak Anas terdengar lantang dari tengah lapangan basket sekolah kami.

Aku yang masih menunggu dieksekusi, berdiri di depan pagar sekolah menyiapkan mental karena kesalahanku yang berulang kali, “terlambat.” Karena seringnya terlambat masuk sekolah, aku sampai mendapat julukan “miss lelet,” sebagai tersangka aku hanya bisa pasrah dan tidak menciutkan hatiku.

“He, kamu! Kenapa bengong aja di situ,  ayo kemari,’ ucap Pak Anas mengagetkan.

“Iyy, iyyaa, Pak.” Suara Pak Anas memporak-porandakan lamunanku.

“Kamu lagi, kamu lagi. Heran Bapak, hobi kok terlambat. Mau jadi apa kamu nanti, hah?! Anak perempuan kok telatan. Masih sekolah aja hobi telat, nggak mungkin bisa jadi orang sukses kamu nanti! Boro-boro bisa sukses. Jangan mimpi, kamu ya! Kamu itukan yang suka jualan di kelas-kelas, ya? Jualan tahu kocek, benar! Kalau mau jualan di pasar atau terminal sana, jangan di sekolah. Dasar kere, nggak tahu malu!” Ucap Pak Anas memarahiku dengan kalimatnya yang diulang-ulang setiap kali aku terlambat sampai kalimat itu mampu kuhafal.

Bagaimana kelanjutan cerita Dena? Simak lagi yuks, next episode yaa.

BERSAMBUNG

 

 

 


Senin, 12 April 2021

Penyuka Pentigraf, Pilihan Cocok Nih Buat Kamu karena Sesuatu Banget!

April 12, 2021 7 Comments

 



tantrileo.com,-Bagi sahabat penyuka sastra dan cerita fiksi kayaknya sudah nggak asing dong dengan istilah pentigraf, ya? Yups, pentigraf itu akronim dari cerpen tiga paragraf. Karya sastra jenis baru ini, kali pertama digagas dan dikembangkan oleh sastrawan dan akademikus dari Unesa, Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. Pentigraf ini sengaja digelorakan oleh Sastrawan Tengsoe Tjahjono, pria kelahiran Jember yang juga di tahun 2012 mendapatkan penghargaan sebagai seorang seniman berprestasi oleh Gubernur Jawa Timur.

 

Dinamakan pentigraf sebab syarat utamanya adalah terdiri dari tiga paragraf, tidak kurang dan tidak lebih. Cerpen atau cerita pendek merupakan bagian dari prosa fiksi yang umumnya dapat dibaca dalam waktu singkat dan berfokus pada peristiwa yang berdiri sendiri atau berkaitan. Mengapa tiga paragraf? Prof Tengsoe memberikan alasan: 1) dengan tiga paragraf, penulis akan mampu memaksimalkan kehadiran elemen-elemen cerpen; 2) penulis bisa mengatur laju alur dengan leluasa; 3) penulis bisa menawarkan pesan moral dengan cepat, tepat dan mudah diterima. Pada proses menghasilkan pentigraf ini pembaca disarankan untuk panjang ideal sebuah pentigraf adalah 210 kata, sekali pun ini juga bukan harga mati.

 

Nah Sobat, terkait dengan pentigraf tadi maka akan lebih greget lagi jika kamu dapat memperkaya wacana contoh-contoh pentigrafnya dong. Ibaratnya nih, jika melakukan sesuatu tidak setengah-setengah ya. Ilmu teoretisnya dapat, contohnya pun didekap tuh, syukur-syukur dengan kegiatan itu menginspirasi kamu untuk menulis pentigraf dan diterbitkan dalam sebuah buku, wuidihh, cakeppp.

[Review Buku] Deskripsi Buku Antologi Pentigraf “Suara-Suara Kami”

Biar kamu semakin cakep wawasannya tentang pentigraf, saya mau mereview buku antologi pentigraf nih, Sobat. Buku ini dibuat oleh penulis-penulis hebat yang tergabung dalam akun website Gurusiana.id dan Grup Facebook Media Guru Indonesia (MediaGuru) Baru. Buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” ini diterbitkan bulan Februari 2021 oleh Penerbit Pustaka MediaGuru (CV Cipta Media Edukasi) dengan jumlah halaman 427.

 

Ada yang spesial dan unik dari buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” kali ini, selain jumlah halamannya banyak juga mengambil angka 21 disesuaikan dengan tahun 2021. Detailnya, jumlah halamannya begitu banyak, karena memang ditulis oleh 21 orang penulis-penulis hebat yang berprofesi sebagai praktisi pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara. Masing-masing penulis melampirkan 10 karya pentigrafnya dalam buku ini, sehingga di buku antologi pentigraf ini ada sejumlah 210 cerpen tiga paragraf yang dihadirkan oleh penulis-penulis hebat dengan style dan karakteristiknya masing-masing.

 

Buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” ini digagas oleh penulis andal, produktif, dan senior yang sudah berkiprah di dunia kepenulisan selama puluhan tahun, karya-karyanya pun banyak dimuat di media massa dan telah menerbitkan puluhan buku solo dan antologi. Penggagas buku antologi ini adalah Bapak Mohd. Nasir yang berasal dari Bengkalis (Riau), dengan sengaja beliau mengajak penulis-penulis sekaligus pendidik yang tergabung dalam grup Facebook Media Guru dengan dibatasi hanya sejumlah 20 orang saja.

 

Begitu Berwarna, Begitu Menggoda

Beruntungnya, saya menjadi salah satu dari 21 orang penulis yang berkontribusi atas pentigraf ini. Penulis-penulisnya merupakan lintas provinsi di Indonesia sehingga dapat dipastikan pentigraf yang dihadirkan pada buku antologi ini variatif dan penuh warna. Terdeskripsikan dengan gaya bertutur yang heterogen. Semuanya berusaha menampilkan style pentigrafnya masing-masing. Semua itu tampak pada diksi yang dideskripsikan dari masing-masing penulis. Cerita-cerita  yang dihadirkan pun beragam temanya, sederhana tapi tak terduga di ending cerita. Itulah kelebihan dari sebuah pentigraf, menghadirkan twist (kejutan) di akhir cerita. Tema cerita yang diangkat pun beragam, mulai dari religi, percintaan, liku-liku rumah tangga, persahabatan, keluarga, horor, jenaka, dan lainnya.

 

Pemilihan diksi yang dihadirkan pada buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” ini pun beragam, sangat memengaruhi asal muasal penulis-penulis berada. Begitu heterogen dan kaya perbendaharaan kosakata dari masing-masing khasanah daerahnya, sangat nusantara sekali deh pokoknya. Penulis-penulis berasal mulai dari Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Riau, Jambi, Sumatera, dan lain-lain. Semua cerita pada buku pentigraf ini InsyaAllah sangat bermanfaat dan menginspirasi. Tidak hanya penyuka pentigraf saja, bagi pemula dan ingin belajar membuat pentigraf, buku ini cocok dijadikan referensi. Saya yakin, kalau sobat punya penilaian sendiri terhadap sebuah pentigraf. Namun, kali ini saya akan merekomendasikan buku pentigraf ini, InsyaAllah akan menginspirasi sobat sekalian untuk segera menerbitkan pentigraf.

 

Kesimpulan

Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata rasanya, dapat turut mewarnai buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami kali ini. Mungkin kata yang paling mewakili ialah “sesuatu.” Dapat dipastikan, semua karya itu membutuhkan proses dan waktu. Di dalamnya ada beraneka rupa upaya, pengorbanan, kerja keras, hasil berpikir yang dalam, peluh, dan keluh. Termasuk saat mencipta sebuah tulisan dalam bentuk buku. Siapa pun penciptanya sudah selayaknya kita mengapresiasi karya tersebut, karena di balik kesuksesan buku tersebut ada derai tangis dan keringat hingga kering di badan.

 

Inilah daftar peserta antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” beserta asal daerah masing-masing:

1.     Mohd. Nasir (Bengkalis, Riau)

2.     Ria Yusnita (Lebak, Banten)

3.     Asmin Adi Purna (Pontianak, Kalimantan Barat)

4.     Mastura (Enrekang, Sulawesi Selatan)

5.     Sundari (Malang, Jawa Timur)

6.     Nurhasanah (Kebumen, Jawa Tengah)

7.     Ratih Handayaningrat (Pandeglang, Banten)

8.     Siska Sarie (Pasaman Barat, Sumatera Barat)

9.     Pujarsono Ahmad (Kulon Progo, D.I. Yogyakarta)

10.  Iin Suparmawati (Jember, Jawa Timur)

11.  Levina Adawiyah (Jatimakmur, Bekasi)

12.  Khoirul Jamal (Depok, Jawa Barat)

13.  Tantrie Leonita (Jember, Jawa Timur)

14.  Marintan R. Simbolon (Tanjung Jabung Timur-Jambi)

15.  Muslih (Lamandau, Kalimantan Tengah)

16.  Siti Nurbaya AZ (Karimun, Kepri)

17.  Sitti Asmah (Sinjai, Sulawesi Selatan)

18.  Agustina Juniati (Sinjai, Sulawesi Selatan)

19.  Fujiwiatna (Ernekang, Sulawesi Selatan)

20.  Heriyanto (Batang Hari, Jambi)

21.  Ida Nurul (Rangkasbitung, Banten)

 

Semoga sahabat sekalian berkesempatan membaca buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” ini. Semoga dapat memberi manfaat khususnya pecinta pentigraf dan yang ingin belajar memperkaya khasanah dunia pentigraf. Yuks, semangat terus memperbanyak wacana dan berkarya sampai kapan pun.

Terima kasih sudah bersedia mampir untuk sekadar membaca tulisan saya yang masih terus belajar dan belajar. Jangan lupa jadikan buku ini sebagai salah satu koleksi sahabat ya.

 

 

Pengalaman Pertama Begitu Menggoda

April 12, 2021 0 Comments

 

tantrileo.com,-Hai, Sobat! Kalian kepingin nggak uji nyali? Tapi uji nyali yang satu ini seruu pake banget serunya lho, ya. Jadi ya sob, zaman sekarang mah uji nyali udah nggak perlu yang horor-horor lagi yups, seperti challenge berdiam diri selama beberapa jam di tempat yang terkenal angker, gelap-gelapan di suatu tempat yang horror bin seram, kalau menyerah kalian bisa angkat tangan di video CCTV tapi apabila masih kuat bisa dilanjut hingga batas waktu yang telah ditentukan. Lalu, mereka yang sengaja mengikuti uji nyali seperti itu demi apa coba?! Selain menguji keberanian juga ngarep bonus fulus dong ya, hehehe.


Nah, terkait uji nyali tadi aku lebih memilih challenge yang aman, menambah wawasan dan skill, mengukur kemampuan diri, plus dapat dilakukan di manapun dan kapanpun dengan santuy tentunya. Syukur-syukur berhasil jadi bisa nambah rekening di ATM karena dapat hadiahnya. Lho, lho, apa ya kira-kira?


Uji nyali yang sengaja aku pilih adalah mengikuti lomba blog GuruInovatif.id Sesi 2 dengan tema “Peran GuruInovatif.id sebagai Platform Belajar dan Sertifikasi Guru Indonesia.” Beruntungnya, lomba ini terbuka untuk umum dan gratis! Hari gini ada yang gratisan plus dapat reward uang dan sertifikat, wuihh otomatis menyenangkan dong pastinya.

 


Lomba Blog ini dapat diikuti melalui berbagai jenis blog mulai dari Blogger, Wordpress, Facebook Post, Kompasiana, Medium, Kumparan, IDNTimes atau forum seperti Kaskus, atau Indowebster. Deadline pengumpulan naskah terakhir pada tanggal 31 Maret 2021.


Kebetulan lomba blog ini kali pertama aku mengikutinya, bermula dari ragu-ragu apakah mampu. Proses aku menghasilkan tulisan juga tidaklah mudah karena selain ragu-ragu di awal dan sempat maju mundur untuk mengikuti atau tidak, mengingat ketika itu begitu banyak seabreg kerjaan yang semuanya deadline hampir bebarengan. Namun, berkat dukungan dan bimbingan teman-teman senior di komunitas kepenulisan FLP Jember. Alhamdulillah terciptalah tulisan blog yang menurut aku pribadi, sudah sangat luar biasa.

 
Yang pertama selalu berkesan! Pertama Begitu Menggoda! 


Kalimat itu tampaknya tepat ditujukan bagiku, because that’s the reality. Sebagai orang awam yang masih harus banyak belajar dan belajar di dunia blogger, ini kali pertama pengalaman mengikuti lomba blog dan rasanya AMAZING! Gimana nggak sobat, semuanya benar-benar belajar dari nol, dari yang tidak tahu menjadi tahu, secara alur, prosedur, dan lainnya. Itu semua juga berkat ketelatenan my coach yang super duper dalam membimbing . Salam TOP BGT dan the best nya sedunia lah pokoknya, spesial my coach forever, hehe.


Alhamdulillah, hasil tidak akan mengkhianati usaha. Ungkapan tersebut cocok dengan yang aku alami. Pasalnya, ungkapan yang bermakna jika kita melakukan sesuatu dengan serius atau berupaya dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mencapai hasil yang gemilang.


Speechless rasanya lho sob, saat mengetahui pengumuman lomba blog tersebut ada namaku terpampang nyata di sana. Masya Allah, tabarakallah kado terindah di bulan April 2021 meski ulang tahun aku masih bulan Agustus.  


Nggak nyangka banget bisa dapat kesempatan menjadi juara harapan bersama pemenang-pemenang hebat lainnya. Sebagian besar di antara pemenang merupakan orang-orang hebat yang sudah kawakan berkiprah di bidang kepenulisan, blogger, pendidik, dll. So, bersyukur tiada henti atas pencapaian yang luar biasa ini ya Allah. Tidak ada yang tidak mungkin jika sudah menjadi ketetapan Allah. Yuks sobat, tetap semangat belajar dan berkarya.


Juara yang aku dapatkan ini, tentu saja aku persembahkan wabil khusus my coach Ilhamsadli.com yang baiknya luar biasa dan cerdasnya nomor wahid sedunia, tetaplah selalu menginspirasi dan menginspirasi. Terima kasih atas apresiasinya kepada guruinovatif.id dan hafecs.id. Selain itu, tidak lupa diucapkan terima kasih untuk dewan juri hebat yang kerennya seIndonesia raya @joecandra18 (joecandra.com), @reezky11, @rdidahutama Selamat untuk para pemenang lainnya. Semoga tulisannya bermanfaat. 


Semoga kita mampu menjadi manusia yang bermutu dan memberi manfaat bagi orang lain. Sebab, manusia yang hebat adalah yang dapat bermanfaat bagi sekitarnya. Hayuuk, terus belajar menjadi guru bagi diri kita sendiri.

Keep semangat berkarya dan terus ikutan lomba yaa


Sabtu, 03 April 2021

Hidup Sebuah Proyek Yang Kau Hasilkan Sendiri

April 03, 2021 0 Comments

tantrileo.com,-Hari ini aku mendapat rezeki yang luar biasa dari Allah SWT. Alhamdulillah, diberi kesempatan bertemu dengan Pak Abdul, begitu panggilannya. Rasanya sesuatu banget, kata-kata itu yang tepat kusimpulkan setelah perjumpaanku dengan Pak Abdul. Keberkahan tersendiri deh dapat mengenalnya. Tanpa disangka dan dinyana, bocornya bebek merah saya membawa keberkahan di siang itu. Di tengah teriknya mentari yang membakar kulit hingga ke indera penglihatanku, tiba-tiba saja si bebek merah kempis alias bocor, alhasil meski terik begitu menyengat mau tidak mau, suka ataupun tidak ya tetap harus dorong si bebek untuk menemui solusinya.

Sebagian orang mungkin akan merasa kesal dibuatnya. “Ibarat peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga pula” bermakna sebuah gambaran di mana seseorang mendapatkan nasib malang yang bertubi-tubi. Dalam arti, di cuaca terik yang tidak bersahabat masih ditambah harus mendorong sendirian kendaraan yang kempis sejauh beberapa kilometer. Keapesan (musibah) yang kita alami memang senantiasa memberikan hikmah tersendiri bagi setiap insan.


Keseharian Pak Abdul menjadi tukang tambal ban dan berjualan bensin eceran di pinggir jalan raya. Hanya bermodalkan gerobak kecil yang dimiliki sebagai pengais rezeki. Beliau mampu menghidupi keluarga kecilnya yang terdiri atas istri dan dua orang anak. Rasa bahagia tampak senantiasa terpancar dari wajah tirus berkulit agak gelap miliknya. Senyum ramahnya juga tidak pernah lepas dari gurat wajahnya yang terlihat di makan usia. Meski tubuhnya tidak cukup berisi tetapi gerakannya terlihat lincah dalam setiap aktivitasnya.


Sekilas, Pak Abdul terlihat tidak tampak seperti orang berada apalagi berlebihan. Begitulah orang senantiasa menilai sosok dari tampak luarnya. Padahal kita kerap kali salah, begitu pun denganku. Siapa yang tidak menduga seorang Pak Abdul dengan mengandalkan profesi sebagai tukang tambal ban ternyata mampu menyekolahkan kedua anaknya di sekolah Islam favorit mulai jenjang Sekolah Dasar hingga di bangku kuliah bahkan tuntas ke Pasca Sarjana. MasyaAllah, amazing …


Sang Pencipta, Allah SWT memang pemilik kuasa. Diri-Nya bebas memilih siapa saja yang akan diberikan hadiah. Buah hati Pak Abdul terdiri atas seorang putri dan putra. Putri pertamanya sudah menyelesaikan studi Pasca Sarjana dan saat ini mengabdi pada pondok tercintanya sambil mengajar menjadi dosen di Universitas Pondok Pesantren di Ponorogo. Sejak di bangku SMP/ Mts sudah memperdalam ilmu agama di salah satu pondok pesantren putri terbesar di Ponorogo. Hal itu berlanjut hingga ke jenjang perguruan tinggi. Putra kedua Pak Abdul pun, saat ini mengikuti jejak sang kakak memperdalam ilmu agama di pondok pesantren di kota yang sama.


Ada kisah unik yang pernah dialami Pak Abdul di waktu lampau. Pak Abdul memang membulatkan tekadnya untuk menyekolahkan kedua anaknya di Sekolah Dasar Islam favorit dengan infaq setiap bulannya mencapai 500 ribu-1 juta, sedangkan untuk uang sumbangan pengembangan gedung berkisar 10 juta-15 juta yang dibayarkan di awal masuk sekolah, dengan diberi kelonggaran waktu dan bisa dibayarkan dengan mencicil. Tentu bukan jumlah yang sedikit tentunya?! Meski demikian, kenyataannya Pak Abdul bisa memenuhi itu semua demi masa depan anaknya khususnya mendukung sepenuhnya dalam hal memperdalam ilmu agama.


Kisah uniknya, saat ingin mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut. Ketika memasuki sekolah favorit tersebut, Pak Abdul memakai sandal jepit karena tidak memiliki sepatu. Ia pun memakai pakaian seadanya karena memang demikian kondisinya. Saat menemui salah satu penanggung jawab sekolah, pihak sekolah sempat heran dan menyuruh Pak Abdul untuk berpikir kembali menyekolahkan anaknya di tempat itu. Namun, dengan penuh percaya diri Pak Abdul meyakinkan pihak sekolah. Pak Abdul mantap dengan keputusannya dan yakin akan dibantu oleh gusti Allah. Setidaknya itulah keyakinan kuatnya kala itu, bermodalkan yakin karena setiap masalah pasti ada solusi.   


Pak Abdul seringkali mendapat telpon dari putrinya yang berada di pondok untuk segera melunasi infaq sekolah karena akan diadakan ujian. Kembali skenario Allah bekerja, tidak sampai H-1 Alhamdulillah atas izin Allah menggerakkan semesta membantu Pak Abdul sehingga anaknya bisa tenang belajar dan mengikuti ujian.


Hidup memanglah penuh dengan perjuangan. Jika kita ingin berhasil dan menjadi manusia sukses, maka kita pun harus melalui sebuah proses yang terkadang menyakitkan jika dirasakan. Oleh karena itu, jadilah manusia yang selalu tawadhuk dan rendah hati. Sejatinya, pejuang sejati tidak harus selalu usung senjata dan unjuk gigi. Dengan memberi manfaat bagi orang lain pun dapat juga disebut sebagai pahlawan!! Karena pada dasarnya setiap orang merupakan sang juara. Kisah yang sungguh inspiratif untuk dapat kiranya direnungkan. Sejatinya manusia itu senantiasa mensyukuri atas apa yang diberikan Sang Pencipta dan sering lah melihat ke bawah sebagai cerminan atas kehidupan kita. Semoga kisah Pak Abdul ini dapat bermanfaat untuk kita semua, Aamiin ….