Kamis, 22 April 2021

# Cerpen

Aku, Kamu, Kita, Sebuah Cerita

 



tantrileo.com,-Ferdy Anggara, laki-laki yang sudah menemani hari-hariku sejak masa kanak-kanak. Pertemanan kami telah terjalin sejak di bangku TK. Hingga kini, usia kami memasuki 25 tahun, jalinan pertemananku dan Ferdy masih berjalan baik bahkan seperti saudara sendiri. Dia selalu menjadi pelindungku, salah satunya dari ejekan-ejekan teman yang mengusiliku. Sebagai anak perempuan yang tidak pernah mengenal ayahnya, tentu saja aku sangat membutuhkan sosok laki-laki yang mampu menjagaku. Beruntungnya, itu semua kudapatkan dari Ferdy. Masih teringat ketika SMP, teman-teman mengejekku.

“Dit, ayahmu siapa namanya? Pak Karso, Pak Dani, Pak Tumin, Pak Indra, atau sama dengan namaku ya, hahaha…” ledek Sandi berulang kali di depan kelas saat pelajaran kosong. Teman lainnya menimpali,“ ayahnya Dita banyak ya, tapi nggak tahu siapa orangnya.” Teman-teman pun tertawa semakin menjadi mengolokku.

Mendengar olok-olok itu membuat hatiku teriris laksana sembilu, perih dirasa. Ini buka kali pertama terjadi, hal ini sudah berulang kali. Namun, aku tidak punya kekuatan untuk membalas. Aku hanya diam sambil menahan sakit di rasa, kutumpahkan tangisan dengan memeluk erat tas ransel biru mudaku. Ferdy yang baru kembali dari toilet melihatku menangis kaget.

“Kamu kenapa, Dit? Apa yang terjadi? Kamu sakit?” tanyanya memberondong pertanyaan.

Aku hanya menggeleng pelan sambil menahan isak tangis yang kutahan agar tidak diketahui teman lainnya. Tidak puas dengan jawabanku, Ferdy pun bertanya pada teman-teman di kelas.

“Awas kamu, Sandi! Tunggu pulang sekolah nanti, kau!” rutuknya kesal sambil meninju-ninju kepalan tangannya menahan amarah.

Sepulang sekolah, aku selalu pulang bersama dengan Ferdy kecuali jika kami ada kegiatan sekolah masing-masing. Kebetulan, rumah kami searah. Siang itu Ferdy menyuruhku pulang sendiri katanya dia masih ada kegiatan lainnya. Akhirnya, aku pun pulang sendiri dengan angkot yang mengantarkanku ke rumah.

Ada yang aneh kurasa siang itu, sepertinya Ferdy menyembunyikan sesuatu dariku. Namun, entah apa, kuharap dia baik-baik saja.

Di lain tempat, Ferdy sudah siap menunggu Sandi di ujung jalan sekolah. Niat ingin memberi pelajaran pada Sandi sudah sejak lama ditahannya. Namun, perbuatannya pada Dita di kelas tadi menjadi puncak kekesalannya pada anak songong satu itu. Setelah menunggu agak lama dari kejauhan tampak Sandi berjalan dengan teman-temannya.

“Hai berandal! Kau beraninya jangan cuma sama perempuan ya. Sekali lagi kau ganggu Dita, aku nggak akan tinggal diam.”

“He, emangnya kau siapanya, Dita? Bapak bukan, saudara bukan, keluarga juga bukan, apa urusanmu, haa…!” jawab Sandi santai dengan gaya menantang.

Sambil menuding ke arah Sandi, aku pun menjawab, “urusan Dita akan menjadi urusanku juga, paham kau!”

Dengan kesal Sandi langsung memukul wajah Ferdy hingga jatuh tersungkur di tanah. Selanjutnya, perkelahian pun tidak dapat dielakkan.

Peristiwa perkelahian Ferdy dan Sandi menjadi trending topik di sekolahku. Keduanya sama-sama mengalami luka parah. Sandi dan teman-teman mengeroyok Ferdy, beruntung Ferdy memiliki ilmu bela diri sehingga dapat membela diri sekali pun dikeroyok. Peristiwa hari itu membuat keduanya di skors dua minggu, aku tanpamu selama dua minggu di sekolah rasanya sesuatu, sepi dan sangat membosankan. Meskipun demikian, sepulang sekolah aku selalu menyempatkan diri menjengukmu di rumah.

Ferdy satu-satunya sahabat yang paling mengerti diriku, segala kesukaanku, hobiku, buku yang paling kusuka, bahkan dia tahu ukuran baju dan nomor sepatuku. Ferdy selalu pandai menenangkan hatiku di kala gundah dan paling mahir membuat suasana menyenangkan.

Dalam keseharian selalu kami habiskan bersama, sekali pun kami sudah berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Ferdy memilih menjadi seorang guru yang berniat berbagi dan mengabdikan diri. Lalu aku, memilih berkarier sebagai penyiar radio karena kecintaanku pada dunia musik atau lebih tepatnya untuk menutupi kesepianku yang tiada henti.

Suatu ketika Ferdy dipindahtugaskan di daerah terpencil di ujung Pulau Jawa selama setahun, selama itu pula Ferdy hanya pulang satu kali mengunjungiku. Rindu sudah pasti, kehilangan apalagi tapi aku tetap sabar dan setia menanti. Ketika berjauhan seolah separuh hidupku terbawa jauh bersamamu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Kami begitu saling menyayangi, meski di antara kami tidak pernah ada kepastian. Namun, dari sikapmu menunjukkan kalau aku spesial dan segalanya bagimu, meski kami jauh setiap hari tetap berkirim kabar dan bertukar cerita. Kabar terakhir dia mengatakan kalau akan pulang dari tugasnya yang sudah usai. Ferdy juga mengatakan ada kejutan untukku, dia juga meyakinkanku kalau kejutan ini yang kutunggu. Hari yang dinanti pun tiba, dia memang benar-benar memberikanku kejutan. Kejutan berupa undangan yang di dalamnya tertera namamu, Ferdy Anggara. Nama satunya, nama perempuan lain, bukan namaku. Padahal aku sangat berharap di undangan itu hanya ada namamu dan namaku, iya nama kita, dalam sebuah kisah lembaran cerita yang mempesona.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar