Sabtu, 03 April 2021

# opini

Hidup Sebuah Proyek Yang Kau Hasilkan Sendiri

tantrileo.com,-Hari ini aku mendapat rezeki yang luar biasa dari Allah SWT. Alhamdulillah, diberi kesempatan bertemu dengan Pak Abdul, begitu panggilannya. Rasanya sesuatu banget, kata-kata itu yang tepat kusimpulkan setelah perjumpaanku dengan Pak Abdul. Keberkahan tersendiri deh dapat mengenalnya. Tanpa disangka dan dinyana, bocornya bebek merah saya membawa keberkahan di siang itu. Di tengah teriknya mentari yang membakar kulit hingga ke indera penglihatanku, tiba-tiba saja si bebek merah kempis alias bocor, alhasil meski terik begitu menyengat mau tidak mau, suka ataupun tidak ya tetap harus dorong si bebek untuk menemui solusinya.

Sebagian orang mungkin akan merasa kesal dibuatnya. “Ibarat peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga pula” bermakna sebuah gambaran di mana seseorang mendapatkan nasib malang yang bertubi-tubi. Dalam arti, di cuaca terik yang tidak bersahabat masih ditambah harus mendorong sendirian kendaraan yang kempis sejauh beberapa kilometer. Keapesan (musibah) yang kita alami memang senantiasa memberikan hikmah tersendiri bagi setiap insan.


Keseharian Pak Abdul menjadi tukang tambal ban dan berjualan bensin eceran di pinggir jalan raya. Hanya bermodalkan gerobak kecil yang dimiliki sebagai pengais rezeki. Beliau mampu menghidupi keluarga kecilnya yang terdiri atas istri dan dua orang anak. Rasa bahagia tampak senantiasa terpancar dari wajah tirus berkulit agak gelap miliknya. Senyum ramahnya juga tidak pernah lepas dari gurat wajahnya yang terlihat di makan usia. Meski tubuhnya tidak cukup berisi tetapi gerakannya terlihat lincah dalam setiap aktivitasnya.


Sekilas, Pak Abdul terlihat tidak tampak seperti orang berada apalagi berlebihan. Begitulah orang senantiasa menilai sosok dari tampak luarnya. Padahal kita kerap kali salah, begitu pun denganku. Siapa yang tidak menduga seorang Pak Abdul dengan mengandalkan profesi sebagai tukang tambal ban ternyata mampu menyekolahkan kedua anaknya di sekolah Islam favorit mulai jenjang Sekolah Dasar hingga di bangku kuliah bahkan tuntas ke Pasca Sarjana. MasyaAllah, amazing …


Sang Pencipta, Allah SWT memang pemilik kuasa. Diri-Nya bebas memilih siapa saja yang akan diberikan hadiah. Buah hati Pak Abdul terdiri atas seorang putri dan putra. Putri pertamanya sudah menyelesaikan studi Pasca Sarjana dan saat ini mengabdi pada pondok tercintanya sambil mengajar menjadi dosen di Universitas Pondok Pesantren di Ponorogo. Sejak di bangku SMP/ Mts sudah memperdalam ilmu agama di salah satu pondok pesantren putri terbesar di Ponorogo. Hal itu berlanjut hingga ke jenjang perguruan tinggi. Putra kedua Pak Abdul pun, saat ini mengikuti jejak sang kakak memperdalam ilmu agama di pondok pesantren di kota yang sama.


Ada kisah unik yang pernah dialami Pak Abdul di waktu lampau. Pak Abdul memang membulatkan tekadnya untuk menyekolahkan kedua anaknya di Sekolah Dasar Islam favorit dengan infaq setiap bulannya mencapai 500 ribu-1 juta, sedangkan untuk uang sumbangan pengembangan gedung berkisar 10 juta-15 juta yang dibayarkan di awal masuk sekolah, dengan diberi kelonggaran waktu dan bisa dibayarkan dengan mencicil. Tentu bukan jumlah yang sedikit tentunya?! Meski demikian, kenyataannya Pak Abdul bisa memenuhi itu semua demi masa depan anaknya khususnya mendukung sepenuhnya dalam hal memperdalam ilmu agama.


Kisah uniknya, saat ingin mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut. Ketika memasuki sekolah favorit tersebut, Pak Abdul memakai sandal jepit karena tidak memiliki sepatu. Ia pun memakai pakaian seadanya karena memang demikian kondisinya. Saat menemui salah satu penanggung jawab sekolah, pihak sekolah sempat heran dan menyuruh Pak Abdul untuk berpikir kembali menyekolahkan anaknya di tempat itu. Namun, dengan penuh percaya diri Pak Abdul meyakinkan pihak sekolah. Pak Abdul mantap dengan keputusannya dan yakin akan dibantu oleh gusti Allah. Setidaknya itulah keyakinan kuatnya kala itu, bermodalkan yakin karena setiap masalah pasti ada solusi.   


Pak Abdul seringkali mendapat telpon dari putrinya yang berada di pondok untuk segera melunasi infaq sekolah karena akan diadakan ujian. Kembali skenario Allah bekerja, tidak sampai H-1 Alhamdulillah atas izin Allah menggerakkan semesta membantu Pak Abdul sehingga anaknya bisa tenang belajar dan mengikuti ujian.


Hidup memanglah penuh dengan perjuangan. Jika kita ingin berhasil dan menjadi manusia sukses, maka kita pun harus melalui sebuah proses yang terkadang menyakitkan jika dirasakan. Oleh karena itu, jadilah manusia yang selalu tawadhuk dan rendah hati. Sejatinya, pejuang sejati tidak harus selalu usung senjata dan unjuk gigi. Dengan memberi manfaat bagi orang lain pun dapat juga disebut sebagai pahlawan!! Karena pada dasarnya setiap orang merupakan sang juara. Kisah yang sungguh inspiratif untuk dapat kiranya direnungkan. Sejatinya manusia itu senantiasa mensyukuri atas apa yang diberikan Sang Pencipta dan sering lah melihat ke bawah sebagai cerminan atas kehidupan kita. Semoga kisah Pak Abdul ini dapat bermanfaat untuk kita semua, Aamiin ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar