Senin, 12 April 2021

# Review

Penyuka Pentigraf, Pilihan Cocok Nih Buat Kamu karena Sesuatu Banget!

 



tantrileo.com,-Bagi sahabat penyuka sastra dan cerita fiksi kayaknya sudah nggak asing dong dengan istilah pentigraf, ya? Yups, pentigraf itu akronim dari cerpen tiga paragraf. Karya sastra jenis baru ini, kali pertama digagas dan dikembangkan oleh sastrawan dan akademikus dari Unesa, Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. Pentigraf ini sengaja digelorakan oleh Sastrawan Tengsoe Tjahjono, pria kelahiran Jember yang juga di tahun 2012 mendapatkan penghargaan sebagai seorang seniman berprestasi oleh Gubernur Jawa Timur.

 

Dinamakan pentigraf sebab syarat utamanya adalah terdiri dari tiga paragraf, tidak kurang dan tidak lebih. Cerpen atau cerita pendek merupakan bagian dari prosa fiksi yang umumnya dapat dibaca dalam waktu singkat dan berfokus pada peristiwa yang berdiri sendiri atau berkaitan. Mengapa tiga paragraf? Prof Tengsoe memberikan alasan: 1) dengan tiga paragraf, penulis akan mampu memaksimalkan kehadiran elemen-elemen cerpen; 2) penulis bisa mengatur laju alur dengan leluasa; 3) penulis bisa menawarkan pesan moral dengan cepat, tepat dan mudah diterima. Pada proses menghasilkan pentigraf ini pembaca disarankan untuk panjang ideal sebuah pentigraf adalah 210 kata, sekali pun ini juga bukan harga mati.

 

Nah Sobat, terkait dengan pentigraf tadi maka akan lebih greget lagi jika kamu dapat memperkaya wacana contoh-contoh pentigrafnya dong. Ibaratnya nih, jika melakukan sesuatu tidak setengah-setengah ya. Ilmu teoretisnya dapat, contohnya pun didekap tuh, syukur-syukur dengan kegiatan itu menginspirasi kamu untuk menulis pentigraf dan diterbitkan dalam sebuah buku, wuidihh, cakeppp.

[Review Buku] Deskripsi Buku Antologi Pentigraf “Suara-Suara Kami”

Biar kamu semakin cakep wawasannya tentang pentigraf, saya mau mereview buku antologi pentigraf nih, Sobat. Buku ini dibuat oleh penulis-penulis hebat yang tergabung dalam akun website Gurusiana.id dan Grup Facebook Media Guru Indonesia (MediaGuru) Baru. Buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” ini diterbitkan bulan Februari 2021 oleh Penerbit Pustaka MediaGuru (CV Cipta Media Edukasi) dengan jumlah halaman 427.

 

Ada yang spesial dan unik dari buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” kali ini, selain jumlah halamannya banyak juga mengambil angka 21 disesuaikan dengan tahun 2021. Detailnya, jumlah halamannya begitu banyak, karena memang ditulis oleh 21 orang penulis-penulis hebat yang berprofesi sebagai praktisi pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara. Masing-masing penulis melampirkan 10 karya pentigrafnya dalam buku ini, sehingga di buku antologi pentigraf ini ada sejumlah 210 cerpen tiga paragraf yang dihadirkan oleh penulis-penulis hebat dengan style dan karakteristiknya masing-masing.

 

Buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” ini digagas oleh penulis andal, produktif, dan senior yang sudah berkiprah di dunia kepenulisan selama puluhan tahun, karya-karyanya pun banyak dimuat di media massa dan telah menerbitkan puluhan buku solo dan antologi. Penggagas buku antologi ini adalah Bapak Mohd. Nasir yang berasal dari Bengkalis (Riau), dengan sengaja beliau mengajak penulis-penulis sekaligus pendidik yang tergabung dalam grup Facebook Media Guru dengan dibatasi hanya sejumlah 20 orang saja.

 

Begitu Berwarna, Begitu Menggoda

Beruntungnya, saya menjadi salah satu dari 21 orang penulis yang berkontribusi atas pentigraf ini. Penulis-penulisnya merupakan lintas provinsi di Indonesia sehingga dapat dipastikan pentigraf yang dihadirkan pada buku antologi ini variatif dan penuh warna. Terdeskripsikan dengan gaya bertutur yang heterogen. Semuanya berusaha menampilkan style pentigrafnya masing-masing. Semua itu tampak pada diksi yang dideskripsikan dari masing-masing penulis. Cerita-cerita  yang dihadirkan pun beragam temanya, sederhana tapi tak terduga di ending cerita. Itulah kelebihan dari sebuah pentigraf, menghadirkan twist (kejutan) di akhir cerita. Tema cerita yang diangkat pun beragam, mulai dari religi, percintaan, liku-liku rumah tangga, persahabatan, keluarga, horor, jenaka, dan lainnya.

 

Pemilihan diksi yang dihadirkan pada buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” ini pun beragam, sangat memengaruhi asal muasal penulis-penulis berada. Begitu heterogen dan kaya perbendaharaan kosakata dari masing-masing khasanah daerahnya, sangat nusantara sekali deh pokoknya. Penulis-penulis berasal mulai dari Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Riau, Jambi, Sumatera, dan lain-lain. Semua cerita pada buku pentigraf ini InsyaAllah sangat bermanfaat dan menginspirasi. Tidak hanya penyuka pentigraf saja, bagi pemula dan ingin belajar membuat pentigraf, buku ini cocok dijadikan referensi. Saya yakin, kalau sobat punya penilaian sendiri terhadap sebuah pentigraf. Namun, kali ini saya akan merekomendasikan buku pentigraf ini, InsyaAllah akan menginspirasi sobat sekalian untuk segera menerbitkan pentigraf.

 

Kesimpulan

Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata rasanya, dapat turut mewarnai buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami kali ini. Mungkin kata yang paling mewakili ialah “sesuatu.” Dapat dipastikan, semua karya itu membutuhkan proses dan waktu. Di dalamnya ada beraneka rupa upaya, pengorbanan, kerja keras, hasil berpikir yang dalam, peluh, dan keluh. Termasuk saat mencipta sebuah tulisan dalam bentuk buku. Siapa pun penciptanya sudah selayaknya kita mengapresiasi karya tersebut, karena di balik kesuksesan buku tersebut ada derai tangis dan keringat hingga kering di badan.

 

Inilah daftar peserta antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” beserta asal daerah masing-masing:

1.     Mohd. Nasir (Bengkalis, Riau)

2.     Ria Yusnita (Lebak, Banten)

3.     Asmin Adi Purna (Pontianak, Kalimantan Barat)

4.     Mastura (Enrekang, Sulawesi Selatan)

5.     Sundari (Malang, Jawa Timur)

6.     Nurhasanah (Kebumen, Jawa Tengah)

7.     Ratih Handayaningrat (Pandeglang, Banten)

8.     Siska Sarie (Pasaman Barat, Sumatera Barat)

9.     Pujarsono Ahmad (Kulon Progo, D.I. Yogyakarta)

10.  Iin Suparmawati (Jember, Jawa Timur)

11.  Levina Adawiyah (Jatimakmur, Bekasi)

12.  Khoirul Jamal (Depok, Jawa Barat)

13.  Tantrie Leonita (Jember, Jawa Timur)

14.  Marintan R. Simbolon (Tanjung Jabung Timur-Jambi)

15.  Muslih (Lamandau, Kalimantan Tengah)

16.  Siti Nurbaya AZ (Karimun, Kepri)

17.  Sitti Asmah (Sinjai, Sulawesi Selatan)

18.  Agustina Juniati (Sinjai, Sulawesi Selatan)

19.  Fujiwiatna (Ernekang, Sulawesi Selatan)

20.  Heriyanto (Batang Hari, Jambi)

21.  Ida Nurul (Rangkasbitung, Banten)

 

Semoga sahabat sekalian berkesempatan membaca buku antologi pentigraf “Suara-Suara Kami” ini. Semoga dapat memberi manfaat khususnya pecinta pentigraf dan yang ingin belajar memperkaya khasanah dunia pentigraf. Yuks, semangat terus memperbanyak wacana dan berkarya sampai kapan pun.

Terima kasih sudah bersedia mampir untuk sekadar membaca tulisan saya yang masih terus belajar dan belajar. Jangan lupa jadikan buku ini sebagai salah satu koleksi sahabat ya.

 

 

7 komentar:

  1. Keren banget ulasannya...kita berada dalam satu buku yang sednag fenomenal ini...😀👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya memang keren banget, begitu pun penulis-penulis di dalamnya. Jenengan yang dari mana ini? Mantap

      Hapus
  2. Keren bangeets ulasannya bund. Sukses selalu.

    BalasHapus