Kamis, 15 April 2021

# Cerpen

Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendirian (Eps.1)



tantrileo.com,-Siang itu mentari enggan menyapa siapa saja yang memuja. Mungkin, ia sedang berduka atau memang suka mempermainkan cakrawala. Biarlah, meski demikian aku tetap tenang dan santai menikmati perjalananku menuju ke rumah. Aku malah bersyukur, karena hari ini sekolah dipulangkan lebih awal dari sebelumnya. Di dalam perjalanan bus yang kunaiki nampak begitu lengang, wajar saja waktu masih menunjukkan pukul 10.10 WIB. Kalau di pertengahan hari, suasana bus dan transportasi umum lainnya yang terdapat di ibukota memang tidak begitu padat. Namun, sebaliknya saat memasuki jam berangkat kerja/ sekolah dan sepulang kerja, akan terlihat padat dan ramai, mereka berjibaku mengejar waktu.

Kalau saja orang menganggap rumah adalah surga, rumah diibaratkan tempat kembali, atau tempat beristirahat. Begitu pula denganku. Ketika sampai di rumah setelah seharian beraktivitas, berangkat dan keluar dari rumah sejak pukul 05.00 pagi, lalu tiba di rumah saat senja dan bisa langsung merebah serasa hal yang paling luar biasa tiada duanya. Sepulang sekolah, aku selalu langsung melanjutkan kegiatan lainnya tanpa pulang terlebih dahulu karena jarak yang cukup jauh dengan tempat-tempat kegiatanku lainnya.

Jarak antara rumah dan sekolah ditempuh dengan sekitar 60 menit, jika macet bisa sampai 90 menit bahkan dua jam di perjalanan. Sehingga, sepulang sekolah aku langsung melanjutkan kegiatanku yang lain, seperti; bimbingan belajar, ke sanggar kesenian, belajar kelompok, atau kegiatan remas (remaja masjid). Kurang lebih seperti itulah rutinitas keseharianku. Sebagai gadis remaja yang terbiasa aktif berkegiatan di sekolah maupun di luar sekolah, memang membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra agar bisa menjalankan antara kewajiban belajar dan berorganisasi.

Pernah suatu hari, ayah menegaskan hal itu padaku, “Kamu harus bisa bagi waktu dengan baik lho ya, antara kegiatan dan sekolah. Ayah nggak mau kalau nantinya malah bikin sekolahmu berantakan,” ujar ayah dengan sorot matanya yang kosong.

“Iya Ayah, InsyaAllah Dena akan ingat terus pesan Ayah. Dena akan belajar tanggung jawab dan jaga kepercayaan yang udah dikasih. Tentu Dena akan menomorsatukan sekolah Ayah. Terima kasih Ayah, sudah mau sabar ingatkan Dena terus.” Selesai berucap Dena langsung mencium tangan ayahnya dan kedua pipi lelaki yang diidolakannya dalam hidup.

 

* * *

 

 

Denada Senja Meyingsing. Itulah nama lengkapku. Aneh terdengarnya ya, tapi aku sangat menyukainya. Nama yang sengaja diberikan oleh kedua orang tuaku yang memiliki darah seni. Ayah sendiri seorang arsitek yang juga pandai membuat komik, aliran lukisannya lebih ke realis. Selain memiliki kepiawaian melukis, kemahiran lainnya adalah bernyanyi dan akting, semasa mudanya dulu ayah seringkali ikut dalam pembuatan film meskipun hanya sekadar figuran. Sangking cintanya pada dunia akting, sebelum fokus pada pekerjaannya yang sekarang ayah membina sanggar kesenian khusus akting di daerah Tomang dengan beberapa teman pecinta kesenian lainnya. Sebagai mantan penyiar radio yang sempat melegenda di ibukota, aku sungguh mengagumi sosok ayah dengan semua talentanya yang luar biasa. Father, you are the source of inspiration and the hero of my life.

Darah seni diriku juga tertular genetis dari ibu. Ibu yang bermula berprofesi sebagai perawat, demi merawat dan membersamai buah hatinya rela resign dan menjadi ibu rumah tangga. Sejatinya, pekerjaan yang paling mulia adalah ibu rumah tangga. Lalu, kepiawaian ibu tidak berbeda jauh dari ayah. Ia pun pandai melukis, rumah kami dipenuhi dengan lukisan-lukisan realis. Lantai atas rumahku dipenuhi dengan lukisan-lukisan ayah yang dominan pada objek hidup. Berbanding terbalik denganku yang justru tidak memiliki kemahiran melukis, really? Iya beb, sungguhan, nggak bohong. Kemahiran ibuku yang lain adalah memasak. Pokoknya is the best dan juara sedunia kalau urusan memasak dan buat kue ibu lah. Ngangeni, tentu saja. Semua mampu disulap menjadi masakan yang wow, karena banyak yang cocok dan suka akhirnya ibu pun sempat membuka catering dan kedai soto mie di samping rumah kami.

 

* * *

 

 

“Lu telat lagi De, hari ini?” Tanya Amara, sahabat sekaligus teman sebangku Dena di kelas. 

“Iya Ra. Padahal, gue udah berangkat pagi-pagi banget lho, jam 5 kurang gue udah ada di terminal. Tapi, tadi di jalan ada mobil yang habis tabrakan gitu. Jadi, bus gue kena imbasnya deh. Bus tadi sempat diam lama, nggak gerak karena jalanan padat. Huft, ngeselin, kan!” sungut Dena kesal sambil tetap menulis buku catatan pelajaran yang tertinggal karena ia terlambat maka tidak boleh mengikuti pelajaran di awal tadi.

 “Udah lah De, nggak usah merengut gitu, mending kita ke kantin aja yuk! Mumpung masih ada waktu istirahat nih. Ada menu baru ketoprak kesukaan lu tau. Ayyoo!” Amara langsung menarik lengan sahabatnya yang masih sibuk saja menulis buku catatan.

Begitulah persahabatan Amara dan Denada. Keduanya saling melengkapi dan mengisi. Dena sendiri merasa beruntung memiliki sahabat seperti Ara, panggilan akrabnya pada sahabatnya satu itu. Menurutnya, Amara itu gadis remaja yang dewasa sebelum waktunya. Baik dalam pemikiran maupun perbuatan, segalanya dipikir matang. Berbeda dengan dirinya yang grusah grusuh, lelet, dan seringkali tidak berpikir panjang. Sikap Amara sepertinya terbentuk dari didikan mamanya yang single parents, sedangkan ayah Ara pergi entah ke mana saat usianya masih enam bulan. Kasihan Amara, beruntungnya ia tumbuh menjadi gadis yang tangguh dan nggak cengeng pada keadaan. Begitu besar rasa ingin melindungi dirinya dari siapa pun yang ingin menjahatinya.

 

* * *

 

 

          “Neng Dena, telat lagi. Hadduh, kumaha ieu, Neng (bagaimana ini). Amang teh takut Neng dimarahi terus sama Pak Anas. Neng Dena, teu nanaon atuh (tidak apa-apa begitu)?” ucap Mang Cecep, satpam sekolah yang baik hati.

          Sebenarnya Dena merasa khawatir dan was-was pada Pak Anas, guru Dena yang terkenal galak dan biasa menghukum siswa yang terlambat masuk sekolah. Namun, Dena berusaha meyakinkan satpam idola di sekolah mereka yang baik hati itu, “Nggak apa-apalah Mang, mau gimana lagi? Kan emang rumahku jauh banget, meski udah dibelain berangkat pagi ya tetep aja ada hambatan di jalan, Mang.”

“Ayo semuanya berdiri di tengah lapangan, cepat! Kalian ini, selalu saja merepotkan,” suara Pak Anas terdengar lantang dari tengah lapangan basket sekolah kami.

Aku yang masih menunggu dieksekusi, berdiri di depan pagar sekolah menyiapkan mental karena kesalahanku yang berulang kali, “terlambat.” Karena seringnya terlambat masuk sekolah, aku sampai mendapat julukan “miss lelet,” sebagai tersangka aku hanya bisa pasrah dan tidak menciutkan hatiku.

“He, kamu! Kenapa bengong aja di situ,  ayo kemari,’ ucap Pak Anas mengagetkan.

“Iyy, iyyaa, Pak.” Suara Pak Anas memporak-porandakan lamunanku.

“Kamu lagi, kamu lagi. Heran Bapak, hobi kok terlambat. Mau jadi apa kamu nanti, hah?! Anak perempuan kok telatan. Masih sekolah aja hobi telat, nggak mungkin bisa jadi orang sukses kamu nanti! Boro-boro bisa sukses. Jangan mimpi, kamu ya! Kamu itukan yang suka jualan di kelas-kelas, ya? Jualan tahu kocek, benar! Kalau mau jualan di pasar atau terminal sana, jangan di sekolah. Dasar kere, nggak tahu malu!” Ucap Pak Anas memarahiku dengan kalimatnya yang diulang-ulang setiap kali aku terlambat sampai kalimat itu mampu kuhafal.

Bagaimana kelanjutan cerita Dena? Simak lagi yuks, next episode yaa.

BERSAMBUNG

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar