Rabu, 05 Mei 2021

# Parenting

6 Cara Efektif Mengajarkan Anak Berpuasa



  

tantrileo.com,-Hai pejuang pundi-pundi ibadah ramadan!

Nggak terasa ya sudah memasuki di 10 hari terakhir ramadan. Sedih? Sudah pasti. Karena sebentar lagi berpisah dengan bulan penuh berkah dan ampunan ini. Namun, sebelum ramadan meninggalkan kita. Aku punya informasi menarik nih khususnya yang memiliki anak usia dini atau bias juga diterapkan pada keponakan.

Jadi, saat memasuki bulan ramadan menjadi ibadah yang wajib dilakukan bagi seluruh umat muslim di dunia dong tentunya. Sama halnya dengan orangtua yang memiliki kewajiban untuk mengenalkan berpuasa pada anak di usia dini di bulan ramadan. Sementara itu, membelajarkan  anak berpuasa tidak hanya sekadar teori saja, akan tetapi sesuai praktik dengan ketentuan usianya. Selain itu juga, hal tersebut lebih diimbangi dengan memberi contoh dan menyertakan anak dalam kegiatan selama di bulan ramadan.

Dalam Islam tidak ada ketentuan pasti atau secara eksplisit usia berapa yang mewajibkan anak untuk berpuasa. Berbeda halnya dengan ketentuan salat, sudah tertulis dan dijelaskan di dalam Alquran, ketentuan salat harus dikenalkan anak batas usia wajibnya yaitu di usia 7 tahun. Berbeda dengan berpuasa, ketentuan itu jika mengikuti syarat Islam

Seperti disampaikan Dai muda, Habib Husein Ja’far Al Hadar, mengungkapkan syarat wajib puasa di antaranya adalah baligh, yakni bukan anak-anak lagi. Baligh tandanya adalah keluar sperma bagi laki-laki dan telah haid bagi perempuan. Beliau sendiri menyarankan bagi anak-anak yang belum baligh, sejak usia 7 tahun jika kondisi memungkinkan diajari puasa. Maka bisa dibelajarkan dimulai dari berpuasa setengah hari. Lalu bagaimana dengan anak Anda? Atau mungkin yang adik kamu bahkan keponakan yang masih kecil, hal itu dapat disosialisasikan yaa…

Nah, berikut ini aku rangkum berdasarkan pengalaman di lingkungan terdekat nih, ada enam cara efektif yang perlu diperhatikan orangtua saat mengajarkan anak berpuasa:

 

1.     Memberikan pemahaman tentang ibadah puasa di bulan ramadan.

     Orangtua per
lu memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang makna puasa itu sendiri. Terlebih cara penyampaiannya pun harus dengan bahasa anak-anak, supaya lebih mudah diterima. Informasi yang disampaikan sifatnya lebih kepada pengetahuan/ edukasi bukan sebuah perintah, sehingga dalam memberikan edukasi sekaligus mengajarkan anak untuk lebih mencintai agamanya. Tujuannya agar anak memiliki kecintaan pada Allah.

 

2.     Memperhatikan usia ideal berpuasa bagi anak-anak.

     Seperti yang telah disampaikan sebelumnya dari sudut pandang seorang Dai bahwa usia ideal melatih anak berpuasa sejak usia 7 tahun. Sementara itu, menurut psikolog sekaligus pendiri Lembaga Psikologi Anava, Maya Savitri, S,Psi., CHt., mengatakan dari sisi psikologis anak mulai siap untuk diajarkan berpuasa pada usia sekitar empat hingga lima tahun. Di usia ini orangtua mengenalkan seputar puasa itu sendiri. Kemudian orantua juga perlu memperhatikan untuk melatih anak berpuasa dilihat dari kondisi fisik anak itu sendiri. Kondisi fisiknya sehat atau tidak, selain itu kondisi psikisnya anak juga perlu dilihat sudah siap atau belum untuk diajarkan.

 

3.     Biasakan sahur bersama.

     Salah satu cara mengenalkan sekaligus melatih anak agar belajar berpuasa yaitu dengan dengan membiasakan diri bangun sahur bersama. Pada saat sahur inilah anak-anak sering kita libatkan dalam bersahur, meskipun di awal dirasa agak kesulitan untuk bangun sahur. Namun, dengan pembiasaan itu akan membuat anak secara tidak langsung menjadi terbiasa.

 

4.     Ajak aktivitas menyenangkan.

     Selain melatih anak di usia dini berpuasa, sebagai orangtua juga perlu menciptakan suasana yang menyenangkan dalam mengisi hari-hari di bulan puasa itu sendiri. Selama pandemic membuat kita harus lebih banyak berdiam diri di rumah saja, hal baiknya moment ini bias dimanfaatkan sebagai family time. Seperti membiasakan salat jamaah, ngaji bersama, menyiapkan menu berbuka puasa bersama buah hati, tarawih bersama, membuat takjil untuk dibagi-bagikan ke sesame. Hal-hal itu sekaligus memunculkan suasana menyenangkan dan hal-hal baru pada anak. Sehingga suasana seperti itu jadi dirindukan.

 

5.     Buka puasa secara bertahap.

     Berpuasa bagi anak-anak usia dini ada tahapan-tahapannya yang perlu diperhatikan orangtua. Saat kondisi fisik anak dirasa belum cukup mampu berpuasa sehari penuh, maka ajarkan untuk diawali setengah hari saja. Ada pula beberapa orangtua yang melatih anaknya dengan berpuasa ‘bedug’ jadi saat duhur berbuka, kemudian dilanjut kembali berpuasa hingga magrib. Tentu saja, jangan sampai ada bentuk paksaan pada anak usia dini untuk berpuasa penuh misalnya. Karena melatih anak usia dini berpuasa memang harus dengan bertahap.

 

6.     Memberikan apresiasi langsung kepada anak setelah berhasil berpuasa.

     Semua orang terkadang sangat suka diapresiasi setelah berhasil melakukan sesuatu. Begitu halnya dengan anak kita lho! Tidak ada salahnya sebagai orangtua memberikan apresiasi atau reward kepada anak kita setelah berhasil berpuasa. Reward tersebut tergantung dari masing-masing orangtua, ada yang menjanjikan akan diberi uang, barang atau hal lainnya.

     Semua itu boleh saja, akan tetapi memberi reward secara langsung pun juga hal yang baik dibutuhkan anak misalnya dengan memberikan pelukan dan ciuman hangat. Sentuhan fisik bisa menjadi salah satu dampak mempererat hubungan antara anak dan orangtua. Tanamkan juga pada anak bahwa pemberian reward itu bukan karena hasilnya tapi lebih kepada prosesnya. Seperti menjelaskan pada anak bahwa selain telah berhasil menahan lapar dan haus, tapi juga telah melatih menahan amarah dan perbuatan lainnya yang tidak baik.

     Jadi, gimana nih setelah membaca sharring pengalamanku. Semakin semangat dong tentunya untuk mengajarkan buah hati tercinta berpuasa. Semoga cara-cara tersebut mudah dipraktikan dan bermanfaat yaa sahabat .…

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar