Minggu, 09 Mei 2021

# Lifestyle

Arisan Daging, Hilangkah Ditelan Zaman?

 


tantrileo.com,-Ketika Hari Raya Idul Fitri, saat semua saudara berkumpul bersilaturahim, pastinya kita ingin memberikan suguhan dan jamuan yang terbaik untuk mereka. Termasuk menu sajian yang istimewa dan sedikit mewah. Pilihan olahan daging menjadi salah satu yang paling banyak diburu oleh para keluarga. Namun, hampir semua bahan-bahan masakan menjelang hari raya harganya melonjak naik luar biasa termasuk daging, sehingga bikin kita menjadi miris dibuatnya.

Berawal dari itulah, sebuah tradisi unik khas lebaran pun lahir. Namanya arisan daging atau sapi. Kalau kita sudah familiar dengan arisan duit, berbeda halnya dengan arisan daging. Namanya arisan daging, otomatis yang didapat pun berupa daging. Kreatif abis kan? Nah, sebelum mengungkap lebih jauh apa itu sebenarnya arisan daging/ sapi dan serba serbinya. Simak terlebih dahulu paparan berikut yuks.

 

Arisan Daging yang Mendunia

Idul Fitri bagaikan final Wprld Cup, seluruh penjuru dunia para penggila bola, penyedia siaran TV, media online, simpatisan bola, pemanfaat situasi bidang ekonomi pun semua berduyun-duyun untuk euforia menyambut kejuaraan bola dunia tersebut. Bahkan, jauh-jauh sebelum perhelatan itu dilaksanakan promosi secara masif pun sudah dilakukan. Babak penyisihan daging antar negara dengan berbagai upaya dilakukan oleh tim dan supporter untuk mendukung agar kesebelasan suatu negara sampai memasuki babak final sebagai bentuk supremasi tertinggi dan gengsi ketika bisa sampai pada target tersebut, yaitu juara. Begitu pula secara individu para pemain merupakan ajang promosi dan pengenalan skill pada klub-klub yang menginginkan untuk mengontraknya.

Jika dikaji lebih merucut lagi bahwa Idul Fitri diibaratkan bagai final akademi dangdut maupun ajang pencarian bakat lainnya. Babak penyisihan adalah masa-masa di mana seluruh anggota melalui tahapan diuji kemampuan olah vokal ataupun olah lainnya sesuai ajang yang diikuti. Tentu saja, tahap akhir yaitu final adalah suatu pengharapan dari siapa saja anggotanya. Tujuan utama meraih kemenangan, sedangkan popularitas adalah bonus dari kemenangan itu sendiri.

Idul Fitri sebuah perjuangan yang dilakukan oleh umat muslim dalam mencapai “La’allakum tattakun” tak lepas dari euforia dalam konteks merayakannya. Akar budaya kita Indonesia adalah gotong royong demikian pula dalam mengisi muatan-muatan tradisi merayakan Idul Fitri, gotong royong adalah ciri yang tampak.

 

Serba Serbi Arisan Daging/ Sapi

Lebih dalam lagi membahas tentang “arisan daging/ sapi” bukanlah bermakna sapi secara fisik, sebagai gambaran jelasnya, masing-masing anggota melakukan iuran dengan nominal yang telah ditentukan selama sebelas bulan yang dikoordinir oleh seseorang yang dipercaya sebagai koordinator yang selanjutnya dibelikan sapi. Barulah, menjelang beberapa hari sebelum Idul Fitri sapi tersebut akan disembelih secara gotong royong, kemudian dibagikan sejumlah anggota iuran secara sama rata. Hal yang menarik lainnya bahwa tanpa adanya pernyataan  hitam di atas putih, kepala sapi dan kulit umumnya diserahkan pada seseorang yang memelihara selama sapi belum disembelih.

 

Ada satu persamaan sebagaimana pembuka ajang World Cup kompetisi pencarian bakat dengan “arisan daging/ sapi.” Yang menjadi satu perjuangan dari awal peserta arisan uangnya untuk iuran setiap bulan hingga mencapai final di Idul Fitri, sebagai suatu kemenangan, kebanggaan jika bisa menyuguhkan lauk pauk daging sapi dalam olahan-olahan masakannya pada saat memberikan hantaran ataupun suguhan bagi sanak saudaranya di hari kemenangan.

Karena ingin menyajikan menu terbaik dari olahan daging, maka membuat banyak perempuan khususnya ibu-ibu seolah-olah menjadi cheef terandal di rumahnya sendiri. Salah satu olahan daging yang digemari masyarakat yaitu bakso dan tahu isian. Meski untuk menghasilkan sebuah menu bakso ala penjual bakso aslinya, membutuhkan perjuangan yang luar biasa tapi tetap saja dilakukan oleh mereka. Daging yang sudah didapat terlebih dahulu dibuat adonan bakso (pentol) dan adonan tahu. 

Jika proses adonan tidak dilakukan di rumah dengan menggunakan blender, biasanya ibu-ibu rela mengantri dengan menyelep daging mereka menjadi adonan yang dinginkan di pasar. Tak jarang mereka harus mengantri dan menunggu sambil berdiri selama berjam-jam. Tetap menjaga protocol kesehatan ya ibu-ibu! Pokok luar biasa deh ya? Setelah bersusah payah mengantri selepan daging, selanjutnya di rumah mereka masih harus berkutat dengan proses pembentukan dan pengolahan pentol. Hebat dan salut euyyy!

Arisan ini dianggap lebih meringankan dan lebih murah daripada membeli daging sapi sendiri di pasar. Selain itu, kualitas daging terjamin jika mengikuti arisan daging/ sapi karena peserta arisan sapi sebelumnya memilih sapi yang terbaik dan fresh tentunya. Masih banyak manfaat lainnya yang dapat diperoleh dari tradisi unik ini, khususnya warga Jember dan Bondowoso yang sampai sekarang masih melestarikannya karena merasakan manfaat dan sikap gotong royongnya.

So, bagaimana dengan arisan daging di tempat kamu, sahabat? Masihkah marak? Yuk, share informasinya di kolom komentar yaa ….

 

Semangat menyongsong Idul Fitri 1442 H. Semoga kembali fitrah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar