Sabtu, 22 Mei 2021

# Cerpen

Merindumu Sebatas Semu

 

tantrileo.com,-Kuingat senyuman manismu. Teduhkan jiwa yang menggebu. Merasuk ke dalam cakrawala hatimu. Selama ini bukan aku tidak berusaha melupakanmu. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, aku tak mampu melupakanmu. Bayangmu begitu kuat, menjelma bagai semesta. Mengingatmu, sama halnya mendinginkan hati pada teriknya mentari. Tepiskan diri tegarkan hati. Menyeruak ke pusara gelombang yang membayang. Aku begitu mencintai senja. Rasa itu dipertegas oleh ucapan mama tentang senja.

“Mama tidak pernah berhenti mencintai senja hingga kini, sayang!” ungkap mama sore itu menjelang senja.

“Iya, Ma. Sama halnya denganku, senja selalu membuatku terpana dengan segala keindahannya,” balasku pada mama.

Pernah suatu ketika, rasa rindu begitu membuncah dan kutanya pada diri, “apakah kamu tahu, Ko?” tanyaku meski tak berbalas.

Merindukanmu adalah hal termudah dalam hidupku. Yang tersulit adalah melupakanmu. Mendambamu ibarat sebuah harapan yang hadirkan ketidakjawaban. Aku memang pernah kecewa, bahkan ribuan kali kekecewaan itu mewarnai episode drama hidup ini. Namun, sejak kehadiranmu semuanya menjadi berubah. Membawa berkah sekaligus anugerah.

Sekalipun kehadirannya sesaat. Ingin sekali aku bercerita. Tentang rasa yang ada. Pada rindu hangat yang kian menjelma. Telah kutitip rindu ini pada langit senja yang seteduh matamu. Mata coklat kebiruan dengan sorot tajam, menghunjam hati menghunus cekam.

Rupanya gelap dan terang kerap bertemu di kala senja. Takkan pernah ku lupa. Karena senja tidak pernah berdusta. Senja pun selalu datang di keesokan harinya. Itulah yang membuatku sangat mencintainya. Dia tak ingkar janji. Kebersamaan kita yang singkat tapi bermakna. Kehadiranmu saat itu, di kala senja ketika tangan ini bergetar menyentuhmu dengan hangatnya.

Di sudut jalan itu, kutemukan dirimu dalam keadaan tak berdaya. Berkubang lumpur di genangan jalan setapak. Kudengar lengkingan suaramu yang menyayat hati. Ketika kutahu kau begitu menggemaskan, kuraih tubuhmu dengan sentuhan hangat yang menggetarkan. Tubuhmu menggigil kedinginan, dengan luka bersimbah darah di sekujur kaki. Tatap matamu tampak mengiba. Menggambarkan suasana hati yang dirundung duka. Seolah tak ingin lepas dari pangkuan. Membuat hati ini tersayat laksana teriris sembilu.

Tubuh mungilmu yang manja. Bulu-bulu tebal berwarna abu-abu yang menempel halus di sekujur tubuhmu. Membuat rasa ini tak mampu berpisah darimu.

Chiko!

Begitu kuberi nama dirimu. Kucing Anggora yang kehilangan arah menuju tuannya. Kutemukan terluka parah di sudut jalan dekat musala di desa kami. Kecintaanku semakin bertambah kepada senja. Karena senja lah yang membantuku menemukan dirimu. Senja yang mempertemukan kita, dengan sesuatu yang begitu kudamba. Meski semua hanya sesaat, hadirmu mampu warnai hati dalam imaji. Babak drama dalam kehidupanku bertambah dalam sebuah cerita yang indah dan bermakna.

Kini, kau telah kembali. Kembali pulang ke arah yang abadi bersama Sang Maha Kasih pemilik bumi.

“Selamat jalan Chiko. Tenanglah kau di surga-Nya.” Ucapku di depan tubuhmu kumakamkan. Tepatnya di samping halaman rumah yang berderet pohon-pohon hias dan rerumputan.

Sudut Taman , 22 Mei 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar